STRESS PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Pada manusia, pengaturan dan konsentrasi
larutan dalam cairan ekstraselular adalah fungsi primer dari ginjal. Ginjal
membuang produk sampah metabolik dan kelebihan konsentrasi dari produk sampah
tersebut serta mengubah bahan-bahan tersebut agar jumlahnya menjadi normal atau
rendah (Suhardjono, 2001). Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air
dalam tubuh, mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan asam-basa
darah, mengontrol sekresi hormon, serta eksresi sisa metabolisme, racun dan
kelebihan garam (Price dan Wilson, 2006). Apabila ginjal gagal menjalankan
fungsinya maka pasien memerlukan perawatan dan pengobatan dengan segera.
Gagal ginjal merupakan penyakit sistemik dan
merupakan jalur akhir yang umum dari berbagai penyakit traktus urinarius dan
ginjal (Bare dan Smeltzer, 2002). Gejala awal gagal ginjal kronik tidak jelas
dan sering diabaikan. Gejala umum berupa letargi, malaise, dan kelemahan sering
tertutup dan dianggap sebagai gejala penyakit primer. Pada tahap lebih lanjut
penderita merasa gatal, mual, muntah, dan gangguan pencernaan lainnya. Terjadi
juga penurunan lemak tubuh, retensi air dalam jaringan, perubahan warna kulit
tubuh, gerakan yang melambat serta adanya penumpukan zat yang tidak diperlukan
lagi oleh tubuh (Lemone and Burke 2004). Gejala ini merupakan
suatu fenomena universal terjadi pada pasien gagal ginjal kronik yang mengalami
gangguan fungsi progresif gagal ginjal kronik dan tidak dapat diperbaiki lagi.
Pasien dengan gagal ginjal kronik harus dapat menerima fakta bahwa terapi
penggantian ginjal akan di perlukan untuk sepanjang hidupnya. Ketidakberdayaan serta
kurangnya penerimaan diri pasien menjadi faktor psikologis yang mampu
mengarahkan pasien pada tingkat stres, cemas bahkan depresi (Stuart dan
Sundeen, 1998).
MAU DATA SELENGKAPNYA


No comments:
Post a Comment