Thursday, December 26, 2013

PERILAKU KELUARGA DALAM MENINGKATKAN HARGA DIRI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI GANGGUAN ALAM PERASAAN ( DEPRESI)

PERILAKU KELUARGA DALAM MENINGKATKAN HARGA DIRI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI GANGGUAN ALAM PERASAAN

( DEPRESI)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Peran keluarga dalam meningkatkan Harga diri klien dengan cara meningkatkan harga diri klien, menjalin hubungan saling percaya, memberi kegiatan sesuai kemampuan klien, meningkatkan kontak dengan orang lain, menggali kemampuan klien, dorongan mengungkapkan pikiran dan perasaannya, bantu melihat prestasi dan kemampuan klien, bantu mengenal harapan, mengevaluasi diri, membantu klien mengungkapkan upaya yang bisa digunakan dalam menghadapi masalah, menetapkan tujuan yang nyata, bantu klien mengungkapkan beberapa rencana menyelesaikan masalah, membantu memilih cara yang sesuai untuk klien, bantu klien untuk mengubah perilaku negatif dan mempertahankan perilaku positif, sikap keluarga: empati, mengontrol klien, memberikan pujian pada klien.  Di masyarakat ada stigma bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang sulit disembuhkan, memalukan dan aib bagi keluarganya. Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan. (Iyus,2009)
Gangguan jiwa depresi mengenai lebih dari 350 juta penduduk di seluruh dunia. Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2007, angka rata-rata nasional gangguan mental emosional (cemas-depresi) penduduk berusia 15 tahun adalah 11,6% atau sekitar 19 juta penduduk. Ironisnya, kurang dari 10% orang dan masalah kesehatan jiwa terlayani di fasilitas kesehatan. Kesenjangan pengobatan diprediksikan melebihi 90%. Usia 15-24 tahun rentan menderita gangguan jiwa depresi, namun lebih sering terjadi pada wanita berusia 20-40 tahun, penduduk kota, di negara maju, individu yang bercerai dibandingkan dengan yang menikah/lajang. Risiko bunuh diri meningkat 20 kali lipat pada penderita depresi dibandingkan bukan penderita. ( WHO, 2012).

                                                    MAU DATA SELENGKAPNYA

         




No comments:

Post a Comment