Saturday, December 28, 2013

HUBUNGAN POLA ASUH DOMINAN ORANG TUA DENGAN SIBLING RIVALRY ANAK USIA PRA SEKOLAH

HUBUNGAN POLA ASUH DOMINAN ORANG TUA DENGAN SIBLING RIVALRY ANAK USIA PRA SEKOLAH

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang Masalah
Persaingan antara dua orang kakak beradik bukan sesuatu yang baru. Persaingan antara saudara kandung (sibling rivalry) biasanya muncul ketika selisih usia saudara kandung terlalu dekat, karena kehadiran adik dianggap terlalu banyak menyita waktu dan perhatian orang tua. Jarak usia yang lazim memicu munculnya sibling rivalry adalah jarak usia antara 1-3 tahun dan muncul pada usia 3-5 tahun kemudian muncul kembali pada usia 8– 12 tahun, dan pada umumnya, sibling rivalry lebih sering terjadi pada anak yang berjenis kelamin sama dan khususnya perempuan, namun persaingan antar saudara cenderung memuncak ketika anak bungsu berusia 3 atau 4 tahun (Woolfson, 2004).
Sibling rivalry muncul ketika hanya ada salah satu anak kesayangan orang tua, hal ini yang akan menimbulkan masalah jangka panjang dalam hubungan kakak beradik. Jumlah saudara yang sedikit cenderung menghasilkan hubungan yang lebih banyak perselisihan daripada jumlah saudara yang banyak. Sains (2009) menjelaskan bahwa, keluarga yang memiliki anak lebih dari satu, semua anak akan diberi peran menurut urutan kelahiran mereka, tetapi apabila peran yang diberikan bukan peran yang dipilih oleh anak sendiri maka kemungkinan terjadi perselisihan.
Sibling rivalry juga dikarenakan oleh rasa cemburu yang seringkali berasal dari rasa takut yang dikombinasikan dengan rasa marah karena adanya ancaman terhadap harga diri seseorang dan terhadap hubungan itu sendiri. Pola asuh yang diterapkan orang tua di rumah, mempengaruhi kecenderungan seorang anak untuk bersaing dengan saudara kandungnya (http://digilib.unimus.ac.id)
Peneliti belum menemukan adanya hasil penelitian-penelitian yang menyebutkan besarnya angka kejadian sibling rivalry secara pasti tetapi dalam situs di internet menyebutkan: di Negara barat 82% dari beberapa keluarga, anak-anaknya mengalami sibling rivalry (Puspha, 2008). Menurut shofiana (2008) seorang psikolog memperoleh data dari Pekalongan diperoleh 68,5% anak mengalami sibling rivalry dari 80 anak (Shofiana, 2008). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ulfah Darajad (2006) di Kelurahan Sumbersari Malang diperoleh data dari 25 responden yaitu 18 orang responden  menyatakan tidak terjadi sibling rivalry dengan jumlah prosentase 72%, dan 7 orang responden menyatakan terjadi sibling rivalry denganb jumlah prosentase 28% .


No comments:

Post a Comment